#24
Wednesday, 13 September 2017September 13, 2017
Jangan Lupa
Ke mana perginya kalian semua kini?
Pemuda yang dulu jiwanya dibakar api
Api semangat untuk mengubah Indonesia tercinta ini
Pulaskah tidur kalian di sana?
Atau kalian dipukuli hingga akhirnya tiada?
Takutkah kalian bila para penerus putus asa?
19 tahun lalu keringat kalian mengalir
Melawan keruhnya suasana saat itu
19 tahun juga kalian pergi tanpa kabar
Hanya meninggalkan makna sebenarnya dari kebenaran
Pastilah kalian sekarang sedang bermimpi
Mimpi tersenyumnya Ibu Pertiwi
Begitu juga kami di sini
Yang selalu bermimpi kalian kembali
Suatu saat nanti
11 September 2017
Hero Timothy
#23
September 13, 2017
Dimana
Merdeka?!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Aku bertanya pada malam
Apa itu merdeka?
Kosakata yang kerap terdengar namun tak
kunjung kujumpainya
Aku duduk di tepi jalan
Melihat sang ibu erat memeluk balitanya beralaskan kardus
Sebelum kumenerawang bintang
Terlebih dahulu aku melihat gedung
gemerlap berpesta-pora
Sungguh malam lebih dingin dari pada siang
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Bagaimana bisa?!!!
Mahasiswa yang turun ke jalan menuntut
keadilan
Mereka bilang perusak dan penyebab
kemacetan
Sedang mereka yang lainnya, makan lalu membasuh tangan
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Bagaimana bisa?!!!
Kakek-nenekku berlumuran darah
Memperjuangkan hak kemanusiaan dan
kemerdekaan
Mereka bilang sistem ini tidak sesuai
ajaran
Mereka yang lainnya datang dengan paham
membasmi tradisi
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Bagaimana bisa?!!!
Negara yang beragam agama
Tak bisa berbuat banyak untuk berdoa
Bahkan hanya untuk meneteskan air mata
Mereka bilang ini bukan tempat kami
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Dimana letak kemerdekaan?!!
Bukankah untuk bersama tak harus sama?!!
Bukankah adam dan hawa bersatu karena
mereka berbeda?!!
Seperti aku mencintaimu wahai kekasihku
Seperti itu pula seharusnya rasa cintaku
pada tanah airku
Puisi-puisi perlawanan mereka anggap
tabu dan menyesakkan
Karena tak semerdu puisi rayuan
Biarlah…!!
Biarkan telinga mereka pengap karena ini
adalah suara hati kami
Jika doa adalah senjata
Maka puisi adalah peluru untuk
menikamnya
Aku bahkan rela mati dalam perantauan
Selama merah putih adalah alasanku untuk
tidur lelap selamanya.
Juga sang ibu erat memeluk balitanya
dikasur kapuk
Karena malam ini hangat dengan doa
perjuangan
Bandung,
16 agustus 2017
Zamzami Nurrohmat
#22
September 13, 2017
Pertiwi
Menyanyi
Di negeri agrari kita dilarang bertani
Di negeri bernenek moyang seorang peluat
kita tak bisa melaut
Di negeri yang terhampar sawah kita
memanen gedung yang mewah
Di negeri yang mengedepankan demokrasi
kita tidak bebas berorasi
Mengumpat di balik safari sembari onani
Transaksi yang menjadi saksi kami
bersuara
Sandiwara massal di panggung terbesar
Yang berjabat tangan saling menyalahkan
Yang berjanji saling mengingkari
Mengubur milyaran ikan untuk kami makan
Memendam padi yang harusnya menjadi nasi
Di keterbukaan kami mencari yang
disimpan
Di keberagaman kami masih tak bisa
nyaman
Di negeri pertiwi hanya yang merdu yang
bisa menyanyi
Di negeri pertiwi yang bersuara sumbang
dipaksanya bungkam
Semakin kau pendam
Semakin nyala dendam
Semakin kau bungkam
Semakin kami enggan diam
Biarkan kami selalu menjadi benalu
bagimu
Jika kebenaran tak bisa menyadarkan kami
bergerak melawan
Bandung, 2017
Zamzami Nurrohmat
#21
September 13, 2017
Barisan puisi yang tak pernah mati
Saat aku bahagia,
Kerap kali aku lupa.
Ada mereka yang berbalut luka,
Dengan senyum terbuka.
Perutku kembung penuh kopi,
Sehingga sulit untuk kupejamkan malam.
Mereka makan dalam mimpi,
Sengaja dipaksanya terpejam.
Sering kutunda datangnya mentari
Namun mereka ingin segera bertemu matahari
Berharap lebih indah di esok hari
Sepatu yang berjalan tanpa kaki
Jejak yang terpahat tanpa di injak
Cucuran peluh yang menetes tanpa daki
Atau lolongan anjing yang diam tak teriak
Barisan puisi yang tak pernah mati
Suara merdu alam yang enggan diam
Gerimis hujan yang datang kemudian pergi
Bulan gelap menyelimuti mereka yang lelap
Bandung, 2016
Zamzami Nurrohmat
#20
September 13, 2017
Yang semulanya buku dan kertas
Berganti dengan kaca dan besi
Yang semulanya berisi tulisan-tulisan tuhan
Berganti tulisan tuhan pula
Tapi tuhan dunia
Yang semula berisi pujian-pujian
Berganti cacian-cacian
Yang semula di baca di waktu-waktu tertentu
Berganti di pegang kemana-mana
Dipandang terus
Dibaca terus
Diamalkan terus
Sungguh hebat kitab baru ini
Kitab apa itu ? Aku juga pengen.
9 September 2017
Geni Arif






