Kapan Pulang?

Sejak tahun 2011, 30 Agustus dideklarasikan sebagai Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional oleh PBB. Peringatan ini diciptakan untuk menarik perhatian masyarakat dunia pada nasib orang-orang yang dihilangkan secara paksa. Bagi keluarga korban penghilangan paksa, hari-hari menunggu tanpa informasi apa-apa adalah hari-hari yang buruk. Hari-hari buruk berupa ketidaktahuan akan apa yang terjadi kepada anak, orangtua atau pasangan yang mereka kasihi. Hari-hari di mana isi hati dan kepala terus bertanya-tanya keberadaan dan nasib dari mereka yang dihilangkan. Bagi keluarga korban penghilangan paksa di Indonesia, hari-hari buruk pun telah menjelma menjadi tahun dan segera berubah lagi menjadi dekade.
Pansus DPR RI pada tahun 2009 telah merekomendasikan Presiden untuk mencari ke-13 korban yang hilang, bersama dengan 3 rekomendasi lainnya, yakni membentuk Pengadilan ad Hoc, memberi kompensasi dan rehabilitasi bagi keluarga korban, serta meratifikasi Konvensi Anti-Penghilangan Paksa. Namun nyatanya, 8 tahun telah berlalu sejak rekomendasi tersebut dikeluarkan, jangankan mencari korban yang masih hilang dan memberi kepastian bagi keluarga korban, tak satu rekomendasi pun dilaksanakan Pemerintah. Nawacita Jokowi untuk membentuk Pengadilan ad Hoc yang terus digadang sejak terpilihnya di 2014 tidak kunjung dipenuhi hingga saat ini.
Berbagai upaya telah masyarakat sipil lakukan, berbagai berkas/cara/rekomendasi penyelesaian kasus telah disampaikan, namun Pemerintah tetap bergeming. Sementara itu ingatan masyarakat terus melemah seiring dengan 'langkanya' topik mengenai penghilangan paksa adalah 'barang langka' dalam arena perbincangan publik sehingga anggapan yang 'diamini' banyak orang adalah bahwa penghilangan paksa merupakan masa lalu yang telah selesai dan sudah tidak perlu diperbincangkan lagi.
Oleh karena itu, pada momen Hari Anti Penghilangan Paksa tahun 2017, kami hendak membangun kembali simpati masyarakat. Kami ingin mengajak publik seluas-luasnya untuk menuliskan cerita mereka tentang apa itu kehilangan dan bagaimana rasanya menanti tanpa kepastian. Kami ingin mengajak sebanyak-banyaknya jiwa untuk tak hanya sekadar mengingat, namun turut kembali kepada akal sehat, dengan mempertanyakan kapan—mereka yang dihilangkan—pulang?
Jabat erat,
Tim #KapanPulang