<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/8674301543822630503?origin\x3dhttp://kapanpulang.kontras.org', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
K_PAN PULA_G?
Beranda
Tentang
Kontak
#21
Wednesday, 13 September 2017September 13, 2017




Barisan puisi yang tak pernah mati

Saat aku bahagia,
Kerap kali aku lupa.
Ada mereka yang berbalut luka,
Dengan senyum terbuka.

Perutku kembung penuh kopi,
Sehingga sulit untuk kupejamkan malam.
Mereka makan dalam mimpi,
Sengaja dipaksanya terpejam.

Sering kutunda datangnya mentari
Namun mereka ingin segera bertemu matahari
Berharap lebih indah di esok hari

Sepatu yang berjalan tanpa kaki
Jejak yang terpahat tanpa di injak
Cucuran peluh yang menetes tanpa daki
Atau lolongan anjing yang diam tak teriak

Barisan puisi yang tak pernah mati
Suara merdu alam yang enggan diam
Gerimis hujan yang datang kemudian pergi
Bulan gelap menyelimuti mereka yang lelap





Bandung, 2016
Zamzami Nurrohmat