<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/8674301543822630503?origin\x3dhttp://kapanpulang.kontras.org', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
K_PAN PULA_G?
Beranda
Tentang
Kontak
#23
Wednesday, 13 September 2017September 13, 2017




Dimana Merdeka?!!!

Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!

Aku bertanya pada malam
Apa itu merdeka?
Kosakata yang kerap terdengar namun tak kunjung kujumpainya
Aku duduk di tepi jalan
Melihat sang ibu erat  memeluk balitanya beralaskan kardus
Sebelum kumenerawang bintang
Terlebih dahulu aku melihat gedung gemerlap berpesta-pora
Sungguh malam lebih dingin dari pada siang

Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!

Bagaimana bisa?!!!
Mahasiswa yang turun ke jalan menuntut keadilan
Mereka bilang perusak dan penyebab kemacetan
Sedang mereka yang lainnya,  makan lalu membasuh tangan


Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!

Bagaimana bisa?!!!
Kakek-nenekku berlumuran darah
Memperjuangkan hak kemanusiaan dan kemerdekaan
Mereka bilang sistem ini tidak sesuai ajaran
Mereka yang lainnya datang dengan paham membasmi tradisi

Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!

Bagaimana bisa?!!!
Negara yang beragam agama
Tak bisa berbuat banyak untuk berdoa
Bahkan hanya untuk meneteskan air mata
Mereka bilang ini bukan tempat kami

Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!


Dimana letak kemerdekaan?!!
Bukankah untuk bersama tak harus sama?!!
Bukankah adam dan hawa bersatu karena mereka berbeda?!!
Seperti aku mencintaimu wahai kekasihku
Seperti itu pula seharusnya rasa cintaku pada tanah airku
Puisi-puisi perlawanan mereka anggap tabu dan menyesakkan
Karena tak semerdu puisi rayuan

Biarlah…!!
Biarkan telinga mereka pengap karena ini adalah suara hati kami
Jika doa adalah senjata
Maka puisi adalah peluru untuk menikamnya
Aku bahkan rela mati dalam perantauan
Selama merah putih adalah alasanku untuk tidur lelap selamanya.
Juga sang ibu erat memeluk balitanya dikasur kapuk
Karena malam ini hangat dengan doa perjuangan



  
Bandung, 16 agustus 2017
Zamzami Nurrohmat