#23
Wednesday, 13 September 2017September 13, 2017
Dimana
Merdeka?!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Aku bertanya pada malam
Apa itu merdeka?
Kosakata yang kerap terdengar namun tak
kunjung kujumpainya
Aku duduk di tepi jalan
Melihat sang ibu erat memeluk balitanya beralaskan kardus
Sebelum kumenerawang bintang
Terlebih dahulu aku melihat gedung
gemerlap berpesta-pora
Sungguh malam lebih dingin dari pada siang
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Bagaimana bisa?!!!
Mahasiswa yang turun ke jalan menuntut
keadilan
Mereka bilang perusak dan penyebab
kemacetan
Sedang mereka yang lainnya, makan lalu membasuh tangan
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Bagaimana bisa?!!!
Kakek-nenekku berlumuran darah
Memperjuangkan hak kemanusiaan dan
kemerdekaan
Mereka bilang sistem ini tidak sesuai
ajaran
Mereka yang lainnya datang dengan paham
membasmi tradisi
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Bagaimana bisa?!!!
Negara yang beragam agama
Tak bisa berbuat banyak untuk berdoa
Bahkan hanya untuk meneteskan air mata
Mereka bilang ini bukan tempat kami
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!
Dimana letak kemerdekaan?!!
Bukankah untuk bersama tak harus sama?!!
Bukankah adam dan hawa bersatu karena
mereka berbeda?!!
Seperti aku mencintaimu wahai kekasihku
Seperti itu pula seharusnya rasa cintaku
pada tanah airku
Puisi-puisi perlawanan mereka anggap
tabu dan menyesakkan
Karena tak semerdu puisi rayuan
Biarlah…!!
Biarkan telinga mereka pengap karena ini
adalah suara hati kami
Jika doa adalah senjata
Maka puisi adalah peluru untuk
menikamnya
Aku bahkan rela mati dalam perantauan
Selama merah putih adalah alasanku untuk
tidur lelap selamanya.
Juga sang ibu erat memeluk balitanya
dikasur kapuk
Karena malam ini hangat dengan doa
perjuangan
Bandung,
16 agustus 2017
Zamzami Nurrohmat






