<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/8674301543822630503?origin\x3dhttp://kapanpulang.kontras.org', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
K_PAN PULA_G?
Beranda
Tentang
Kontak
#22
Wednesday, 13 September 2017September 13, 2017




Pertiwi Menyanyi

Di negeri agrari kita dilarang bertani
Di negeri bernenek moyang seorang peluat kita tak bisa melaut
Di negeri yang terhampar sawah kita memanen gedung yang mewah
Di negeri yang mengedepankan demokrasi kita tidak bebas berorasi

Mengumpat di balik safari sembari onani
Transaksi yang menjadi saksi kami bersuara
Sandiwara massal di panggung terbesar
Yang berjabat tangan saling menyalahkan
Yang berjanji saling mengingkari

Mengubur milyaran ikan untuk kami makan
Memendam padi yang harusnya menjadi nasi

Di keterbukaan kami mencari yang disimpan
Di keberagaman kami masih tak bisa nyaman
Di negeri pertiwi hanya yang merdu yang bisa menyanyi
Di negeri pertiwi yang bersuara sumbang dipaksanya bungkam

Semakin kau pendam
Semakin nyala dendam
Semakin kau bungkam
Semakin kami enggan diam

Biarkan kami selalu menjadi benalu bagimu
Jika kebenaran tak bisa menyadarkan kami bergerak melawan




Bandung, 2017
Zamzami Nurrohmat